Pemberdayaan Masyarakat: Antara Pendekatan dan Program

Menurut sejarahnya, pendekatan terhadap komunitas diawali oleh community action (tindakan untuk komunitas) dengan mendirikan organisasi atau grup yang bertujuan mencari perubahan dalam komunitas. Skidmore, et.all (1994) dalam bukunya “Introduction to Social Work, 6th editions” menyatakan bahwa usaha pertama yang dilakukan untuk mengkoordinasi aktivitas dan aksi komunitas oleh London Charity Organization Society dimulai tahun 1869, yang mencoba untuk mengeliminasi duplikasi dan kecurangan dalam administrasi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pelayanan sosial melalui koordinasi dan kerjasama yang lebih baik. Usaha teroganisir pertama yang dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 1877, dengan dibentuknya Buffalo Charity Organization Society. Usaha ini perlu karena banyak agen privat bermunculan dengan banyak jarak antara pelayanan secara total, dan juga kompetisi yang tidak perlu.

Pada tahun 1909 di Pittsburgh dan Milwaukee, dewan komunitas sejahtera pertama di Amerika Serikat berdiri. Mereka disebut Dewan Agensi Sosial. Sejak saat itu mereka berkembang dan diperluas oleh karena itu banyak dari sentra-sentra populasi besar sudah memiliki dewan komunitas sejahtera. Dewan ini, organisasi yang bijaksana, umumnya berfokus pada tiga bidang utama: kesehatan, kesejahteraan, dan rekreasi. Kebanyakan dari mereka memiliki badan perwakilan dari semua lembaga-lembaga dalam masyarakat yang bergabung dengan dewan.

Lalu kemudian muncullah konsep empowerment yang hadir karena dua premis mayor, yakni kegagalan dan harapan (Friedmann, 1992 dalam Wrihatnolo, 2007). Kegagalan yang dimaksud adalah gagalnya model-model pembangunan ekonomi dalam menanggulangi masalah kemiskinan dan lingkungan yang berkelanjutan. Sementara itu, harapan muncul karena adanya alternatif-alternatif pembangunan yang memasukkan nilai-nilai demokrasi, persamaan gender, persamaan antar generasi, dan pertumbuhan ekonomi yang memadai. Kegagalan dan harapan bukanlah alat ukur dari hasil kerja ilmu-ilmu sosial, melainkan lebih merupakan cermin dari nilai-nilai normatif dan moral. Kegagalan dan harapan akan terasa sangat nyata pada tingkat individu dan masyarakat. Pada tingkat yang lebih luas, yang dirasakan adalah gejala kegagalan dan harapan. Dengan demikian, “pemberdayaan masyarakat”, pada hakikatnya adalah nilai kolektif pemberdayaan individual (Friedmann, 1992 dalam Wrihatnolo, 2007).

Sebagai tambahan terhadap data diatas penulis mencoba mengambil dari perspektif yang lain. Dalam bukunya, Adi (2005) menyatakan bahwa Menurut David Brokensha dan Peter Hodge ada perbedaan latar belakang historis yang cukup jelas antara pengembangan masyarakat dengan pengorganisasian masyarakat.

Perbedaan tersebut antara lain adalah mereka meyakini bahwa pengorganisasian masyarakat yang diterapkan di Amerika Serikat pada mulanya lebih banyak dikembangkan di dalam negeri. Sedangkan pengembangan masyarakat yang digunakan oleh bangsa Inggris, lebih banyak diujicobakan di Afrika atau negara-negara koloni lainnya.

Selain itu pengembangan masyarakat yang dilakukan Inggris melihat bahwa proses itu merupakan respon pragmatis terhadap kebutuhan yang dirasakan daerah koloni mereka, yang pada dasarnya mereka kurang mendapatkan layanan yang kurang memadai dibidang pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan dalam arti sempit, Sedangkan di Amerika, pengorganisasian masyarakat dimulai pada pengembangan sektor pertanian, yang baru kemudian bergerak ke masalah perkotaan.

Menurut Hodge lagi, akar munculnya model pengembangan masyarakat (Community Development) terkait dengan disiplin ilmu pendidikan (education). Secara resmi istilah Community Development dipergunakan di Inggris pada tahun 1948, untuk mengganti istilah mass education (pendidikan massa). Di Amerika Serikat pengembangan masyarakat juga berakar dari disiplin pendidikan di tingkat pedesaan (rural extension program), sedangkan di perkotaan mereka mengembangkan organisasi komunitas (community organization) yang bersumber dari ilmu kesejahteraan Sosial. (Adi, 2005).

Sedangkan apabila pemberdayaan masyarakat ditilik dari sudut program, maka pemberdayaan masyarakat akan lebih bersifat sistematis, dimana dalam pelaksanaannya akan menggunakan beberapa tahapan pelaksanaan. Adi menyatakan bahwa jika Pemberdayaan Masyarakat dilihat sebagai suatu program, maka di dalamnya akan terdapat tahapan-tahapan kegiatan, dalam rangka meraih suatu tujuan yang sudah ditentukan jangka waktunya.

Tahapan dalam pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat adalah unsur-unsur yang harus ada dalam pemberdayaan masyarakat sehingga hal ini dapat memperbaiki taraf hidup masyarakat ke arah yang lebih baik. Salah satu unsur yang menjadi tolak ukur keberhasilan suatu program pemberdayaan masyarakat adalah adanya tahapan intervensi dalam proses pemberdayaan masyarakat. Menurut Isbandi R.A, ada beberapa tahapan yang dibahas secara rinci dalam proses pemberdayaan masyarakat, yaitu:

  • Tahap Persiapan (Engagement)

Tahap persiapan ini memiliki substansi penekanan pada dua hal elemen penting yakni penyiapan petugas dan penyiapan lapangan. Dalam hal ini, penyiapan petugas adalah tenaga pemberdaya masyarakat atau pendamping masyarakat dan bisa juga dilakukan oleh community worker. Sedangkan penyiapan lapangan merupakan prasyarat suksesnya suatu program pemberdayaan masyarakat yang pada dasarnya diusahakan dilakukan secara non-direktif. Non-direktif ini maksudnya adalah melibatkan masyarakat sepenuhnya ke dalam program pemberdayaan masyarakat tersebut. Tahapan ini adalah tahapan prasyarat sukses atau tidaknya sebuah program pemberdayaan berlangsung.

  • Tahap Pengkajian (Assessment)

Tahapan ini dapat dapat dilakukan secara individu melalui tokoh-tokoh masyarakat dan juga melalui kelompok-kelompok dalam masyarakat. Pada tahap ini, petugas atau pendamping masyarakat sebagai agen peubah melakukan identifikasi masalah atau kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat (felt needs), dengan melibatkan masyarakat dalam identifikasi tersebut karena masyarakat setempat yang sangat mengetahui keadaan dan masalah ditempat mereka berada. Tahapan ini memiliki penekanan pada faktor identifikasi masalah dan sumber daya yang ada dalam sebuah wilayah yang akan menjadi basisi pemberdayaan serta pelaksanaan program.

  •  Tahap Perencanaan Alternatif Program atau Kegiatan (Designing)

Dalam tahap ini,  petugas atau pendamping masyarakat sebagai agen peubah (change agent) mencoba melibatkan masyarakat untuk memikirkan masalah-masalah yang mereka hadapi dan bagaimana cara mengatasinya. Dalam hal ini masyarakat diharapkan dapat memikirkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat dan masalah yang lebih diprioritaskan. Kemudian masyarakat diharapkan dapat memikirkan beberapa alternatif program atau kegiatan yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk memecahkan masalah mereka. Dalam tahap ini dipikirkan secara mendalam agar program pemberdayaan yang ada nantinya tidak melulu berkisar pada program amal (charity) saja dimana demikian itu tidak memberikan manfaat secara pasti dalam jangka panjang.

  • Tahap Pemformulasian Rencana Aksi (Designing)

Dalam tahap ini ada kerjasama antara masyarakat, petugas atau pendamping masyarakat sebagai agen peubah (change agent), dan pihak lain (stakeholder). Petugas atau pendamping masyarakat membantu masyarakat untuk merancang atau mendesain gagasan mereka atau alternatif program atau kegiatan yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk memecahkan masalah mereka dalam bentuk tulisan, terutama apabila ada kaitannya dengan pembuatan proposal kepada pihak penyandang dana.  Disini masyarakat telah menjabarkan secara rinci dalam bentuk tulisan tentang apa-apa yang akan mereka laksanakan baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang.

  • Tahap Pelaksanaan Program atau Kegiatan (Implementation)

Tahapan ini merupakan salah satu tahapan yang paling penting dalam program pemberdayaan masyarakat karena sesuatu yang sudah direncanakan dengan baik akan dapat melenceng dalam pelaksanaan dilapangan  bila tidak ada kerjasama yang baik antara petugas atau pendamping masyarakat sebagai agen peubah (change agent) dengan masyarakat maupun antar warga masyarakat. Tahapan ini berisi tindakan aktualisasi bersinergi antara masyarakat dengan petugas atau pendamping masyarakat sebagai agen peubah dan antar warga masyarakat itu sendiri.

  •  Tahap Evaluasi

Tahapan ini memiliki substansi sebagai proses pengawasan dari warga dan petugas atau pendamping masyarakat sebagai agen peubah (change agent) terhadap program pemberdayaan masyarakat yang sedang berjalan dengan melibatkan warga. Tahapan ini juga akan merumuskan berbagai indikator keberhasilan suatu program yang telah diimplementasikan serta dilakukan pula bentuk-bentuk stabilisasi terhadap perubahan atau kebiasaan baru yang diharapkan terjadi.

  • Tahap Terminasi

Tahapan terminasi adalah sebuah tahapan dimana seluruh program telah berjalan secara optimal dan petugas atau pendamping masyarakat sebagai agen peubah (change agent) atau dapat juga disebut dengan fasilitator pemberdayaan masyarakat sudah akan mengakhiri kerjanya. Tahapan ini disebut sebagai tahap pemutusan hubungan antara petugas atau pendamping masyarakat dengan masyarakat yang menjadi basis program pemberdayan ketika itu. Petugas pun tidak keluar dari komunitas secara total, melainkan ia akan meninggalkannya secara bertahap.

Maka dapat diambil satu hipotesa bahwa, pendekatan merupakan awal mula dari pengembangan masyarakat, yang selanjutnya menjadi program. Pemberdayaan Masyarakat dalam bentuk program ini memiliki poin utama yaitu adanya satu keberlanjutan, dimana keberlanjutan tersebut tidak hanya ada selama agen peubah ada bersama komunitas sasaran, tetapi juga setelah agen peubah memutuskan hubungan dengan komunitas sasaran (terminasi).

Pemberdayaan Masyarakat sebagai kerangka menanggulangi kemiskinan adalah salah satu aspek penting, karena Pemberdayaan Masyarakat seperti yang sudah disinggung dalam bab 1 akan memberikan efek yang positif dalam proses pengembangan masyarakat. Hal ini terlihat dari banyaknya negara-negara di dunia ini yang memakai pendekatan maupun program pemberdayaan masyarakat dalam memperbaiki kualitas hidup atau kesejahteraan masyarakat.

Pemberdayaan Masyarakat dalam bentuk program memiliki tahapan-tahapan, dimana disana terdapat aspek partisipasi masyarakat, memberdayakan dan mengurangi tingkat kemiskinan dengan cara masyarakat miskin tersebut berusaha untuk dirinya sendiri, keluar dari jurang kemiskinan. Oleh sebab itu, Pemberdayaan Masyarakat sebagai suatu program menjadi penting perannya.

*Tulisan ini dibuat pada tanggal 6 November 2009 yaitu ketika penulis masih melaksanakan praktikum di PNPM PISEW, sebuah lembaga di bawah BAPPENAS, yang memiliki fokus di bidang infrastruktur ekonomi wilayah.

Sumber Referensi:

David Brokensha & Peter Hodge, Community Development: An Interpretation dalam Isbandi R. Adi. 2005. Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. FISIP UI Press

Adi, Isbandi Rukminto. (2002). Pemikiran-pemikiran Pembangunan Kesejahteraan Sosial. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

—————————-. (2005). Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial (Pengantar pada Pengertian dan Beberapa Pokok Bahasan). Jakarta: FISIP UI Press.

—————————-. (2008). Intervensi Komunitas. Pengembangan Masyarakat sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Rajawali.

Skidmore, et.all (1994) “Introduction to Social Work, 6th editions”. New Jersey, Prentice-Hall

Wrihatnolo, Randy R.  dan Riant Nugroho Dwidjowijoto. (2007). Manajemen Pemberdayaan. Jakarta: Gramedia.

About aulleaul

I am a Social Welfare graduate, from University of Indonesia. I am passionate with human resources as well as human in general. Love watching movie and read a lot.

Posted on 26/05/2011, in Berhenti Sejenak, Mungkin Berguna and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. bersiaplah. tulisan2 lo akan diserbu pegiat LSM, CSR, comdev, com empowerment, mahasiswa, ibu-ibu bapak2 mentri, benificieries, mas bro dan mbak sis. waspadalah!

    eniwei, nice post wul.ayok menulis!😀

  2. pasti!
    saya akan terus menulis (:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: