Hal yang (tidak) mudah

Kadang nonton film yang heart warming bisa bikin kita terinspirasi. Gw beberapa hari yang lalu iseng nonton film yang judulnya “Simon Birch“. Filmnya tentang persahabatan dua orang anak usia 12 tahun di kota kecil di Amrik. Yang satu anak ngga punya bapak, satu lagi anak yang terlahir dengan ukuran yang kecil, ya kayak cacat gitu deh. Anak yang dari lahir mini ini namanya Simon, walaupun ukurannya kecil dia termasuk pede dengan selalu bilang kalo Tuhan pasti punya rencana khusus untuk dia.

Mereka selalu pergi bareng-bareng, main kemana-mana bareng-bareng, bahkan Simon sering nginep di rumah Joe sahabatnya itu. Ada satu kejadian dimana nyokap Joe bilang ke Simon.

“Mon, kamu udah bilang mamah kamu belom kalo mau nginep disini?”

“Belom tante”

“Yaudah bilang dulu, nanti dicariin lagi”

Simon pun nelpon bokapnya dan dengan enteng dijawab “Gw ga peduli” pas Simon bilang dia mau nginep di rumah Joe.

Emang orang tua Simon kayak ngga nganggep dia anak, yang justru baik dan care ama dia itu nyokap dari sahabatnya yaitu si Joe Wenteworth. Film ini banyak ceritain tentang betapa Simon percaya banget sama Tuhannya, bahkan bikin si Joe yang tadinya “biasa-biasa aja” jadi orang yang percaya ama Tuhan. Simon bener-bener mengubah Joe. Dari film ini gw juga ngeliat kalo “sesama” orang yang dikucilkan (Joe anak haram, Simon anak cacat) mereka bisa lebih deket. Mereka merasa senasib.

I don’t know. Maybe it’s because we both
know how it feels to be an outsider.
Teased or…
whispered about.”

Abis nonton film itu gw agak nyadar, ada cerita lain yang sejenis. Betapa kalo orang sama-sama merasa “doesn’t belong here” mereka bisa empati terhadap orang yang diperlakukan sama. Gw ngambil contoh Naruto yang bisa ngerti Gaara, gimana mereka dari kecil udah dibenci dan dikata-katain. Tapi Naruto orang yang bener-bener positif, dia ga nangis atau ngeluh. Dan setelah mengenal Naruto dan bahkan diselamatin hidupnya, Gaara bener-bener berubah, dan jadi orang baik. Kalo dulunya keinginan Gaara satu-satunya cuma bunuh orang yang “stand in his way“.

Joe dan Simon

Yang kedua yang gw liat, baik Naruto maupun Simon Birch selalu bersyukur apapun keadaannya. Mungkin Naruto sama kayak Simon, dia mungkin mikir kalo Tuhan punya rencana untuk dia, dan dengan segala keterbatasan yang ada dia tetep semangat untuk hidup. Kalo Simon aja yang cacat tetep percaya ama rencana Tuhan, Naruto yang masih normal pasti bisa lebih baik lagi dalam bersyukur. Dan karna dua tokoh ini cuma karangan manusia, harusnya manusia yang sebenarnya lebih bisa lagi kan…

Karena bersyukur itu memang hal yang tidak mudah.

Sumber gambar: http://www.dreamagic.com/vivianrose/simonBirch.gif

About aulleaul

I am a Social Welfare graduate, from University of Indonesia. I am passionate with human resources as well as human in general. Love watching movie and read a lot.

Posted on 30/09/2011, in Film, Sebuah pergulatan beberapa jari dan click-an tetikus. Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. Benar-benar hal yang tidak mudah..🙂 but, there are another plan from God to us..hoho. Nice brother!

  2. aaa, mau doong nonton filmnyaaa..

  3. this story really inspiring me…
    benar2 kita harus bersyukur apa yang telah kita dapatkan selama ini, dan Tuhan tidak pernah pergi dari diri kita…

  4. @aliy: bole bole al..
    kapan aja ketemuan blg nanti gw bawa harddisk gw

    @erick & chornie: semoga bermanfaat🙂

  5. Dan saya jadi penggemar Gaara semenjak dia jadi baik.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: