Yaudahlah ya..

Wow.. Lama juga gw udah ngga nulis di blog.

Hampir 2 bulan ya tepatnya ngga nulis. Kangen juga nulis, apalagi ngeliat temen gw si erick azof yang segitu produktifnya nulis. Sial lo rick, hahaha. Akhir Juni ini gw tiba mendapat urgensi maksimal untuk nulis sesuatu *apa coba bahasa gw*. Jadi gini, ceritanya gw ngikutin sejenis seminar tentang Young Entrepreneur, Creative, CEO blablabla, bukannya gw jadi semacem enlighten gitu abis ikut seminar, tapi ya menurut gw ada beberapa poin penting yang dikasih tau ama Rhenald Kasali yang kebetulan jadi host seminar itu. Dia bilang kalo masyarakat Indonesia belom terbiasa/belom bisa malah menggunakan sisi asertif dalam mengungkapkan perasaan. Yang normalnya keluar dari masyarakat Indonesia ya, kalo ngga agresif, ya pasif.

Gw “agak” langsung mraktekin sisi asertif gw pas pulang dari seminar itu. Pas pulangnya kebetulan gw adalah penikmat transportasi umum, gw naek kereta, yang menurut gw cukup nyaman biarpun penuh sih. Anyway, pas pulang itu gw bayar tiket kereta, dan baru sampe ruang tunggu gw nyadar, kalo duit kembaliannya kurang 5000 perak. Di otak gw: ah yaudahlah ya.. cuma 5000 ini, trus gw mikir ulang: lah kalo gw yaudahlah terus, dimana hak-hak gw (di otak gw udah mulai berpikir yang berlebihan tentang politik, hak asasi dan macem-macem nih *baca: mulai kumat*), yaudah abis itu gw bilang ke erick:

“rick, tadi berapa sih kita bayar?” | “6 orang kan ul?jadi 24ribu” | “lah ini kembaliannya berarti kurang goceng rick” | “serius?” | “iya rick, balik lagi deh yok”

Mungkin banyak kejadian sebelum hari itu, dimana gw “let it go” sesuatu yang seharusnya gw perjuangkan. Gw bilang ke diri gw: yaudahlah ya.. “segini” doang, disini yang bahaya menurut gw ya di “segini”-nya itu. Karna bisa-bisa ngga kerasa, si “segini” itu malah menjadi sangat besar, dan gw jadi orang yang super permisif terhadap hak-hak yang seharusnya gw terima.

Memang terkesan simple, tapi kadang sesuatu yang harusnya lo perjuangkan, yang harus lo pertahankan, itu emang harus lo pertahankan. That’s it. Over and out.

About aulleaul

I am a Social Welfare graduate, from University of Indonesia. I am passionate with human resources as well as human in general. Love watching movie and read a lot.

Posted on 30/06/2012, in Berhenti Sejenak and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. kadang, faktor budaya juga mempengaruhi ke’permisif’an seseorang sih. misal: orang jawa identik dengan sifat gak enakan. makanya untuk little-wrong-doing biasanya dimaklumi. justru budaya ‘pemakluman’ itu yang harusnya mulai dihilangkan *note to my self*😀

  2. yaudalah ya…hehehe! memang sebaiknya kt lebih mengenal “asertif”, yang selama ini orang mungkin hnya kenal dengan dua sifat : agresif dan pasif.

    Kesannya seperti abu2 ya? tapi disitulah rule nya. Contoh lainya misalnya tentang “halal”. kita halal untuk minum, tapi kita dilarang untuk minum secara berlebih-lebihan. Nah, terkesan abu2 bkn? disatu sisi kita di bolehkan tapi ada disisi lain ‘rule’ yang bikin minum itu tidak boleh.

    Sama seperti sifat yang brother aul nyatakan..sebenarnya sudah ada dari dulu namun mungkin bahasa ilmiahnya aja baru diketemukan..hohooho..

    btw, like this post! keep writing. ga masalah mau 2 bulan, 3 bulan, setidaknya sudah pernah dilakukan..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: