taken for granted

take someone or something for granted — to expect someone or something to be always available to serve in some way without thanks or recognition; to value someone or something too lightly. (thefreedictionary.com)

Gw selalu mikir kalo gw sering di-taken for granted ama orangtua gw. Gw pernah bahas ini dengan orangtua gw dan gw bilang secara terus terang ke mereka, kalo gw sebel karna mereka taken for granted gw banget. Beberapa hari terakhir ini, gw baru mikir lagi dan nyadar kalo jangan-jangan yang sebenernya melakukan taken for granted ini justru gw sendiri…..terhadap mereka.

Gw ngga nyadar kalo gw ini ngga ada apa-apanya dibanding mereka, apa sih kontribusi gw terhadap keluarga?ngeluh-ngeluh gw?komplain-komplain gw?celetukan sadis gw?komentar nyakitin gw? Udah itu doang kontribusi gw? Apasih gunanya, kalo kontribusi gw cuma kayak gitu doang? Apa gunanya ya gw?

“to expect someone or something to be always available to serve in some way without thanks or recognition”–Gw makan, gw tidur, gw mendapat shelter di rumah orangtua gw, dengan uang orangtua gw, lantas gw bilang kalo gw yang di-taken for granted-in?Salah banget sih ini. Bahwa gw ngga pernah nyadar kalo segala sesuatu yang gw dapet has been a bless in every way. Harusnya gw tau, gw bisa peka, kalo ini tuh gw beruntung.

Dan abis gw pikir-pikir lebih lanjut, kok ya gw cupu ya…kok ya gw sebenernya ngga ada apa-apanya dibanding, say, nyokap gw, yang pekerja, dan bisa meraih jabatan yang cukup prestisius di kantornya. Dan gw merasa itu bukan sesuatu yang keren, padahal banyak rekan nyokap yang dedikasi tahunnya (lebih dari 27 tahun kerja di kantor itu), tapi ga seberuntung/sehebat nyokap gw yang bisa meraih jabatan kayak sekarang. Why I have failed to notice that before? 

Harusnya gw malu. Malu usia. Malu banget. Harusnya gw meniru, mencoba untuk bisa setidaknya menyamai nyokap gw, atau kalopun ngga bisa menyamai dengan jadi pekerja, ya appreciate nyokap dengan pantas. Atau bokap gw, kenapa gw belum bisa menghargai dia? atau meniru dia? Bokap gw sebelum nikah dengan nyokap gw, udah punya rumah, punya! Bukan sewa atau kontrak, tapi memiliki. Lah gw? Apa sih yang bisa gw banggain misalnya melamar anak orang?

“Saya mau melamar anak om” | “Punya apa kamu?” | “hmmm, eh oh, anuu, itu, punya cinta oommm”

Ngga mungkin kayak gitu kan? Emang istri gw mau makan cinta tiap hari? Bukannya materialistik, tapi realistis bahwa ngga bisa dipungkiri kita manusia butuh makan, butuh tempat tinggal, butuh uang. Nah kalo gini makin gila lagi kan kerasa, bahwa, gw Aulia Afkar telah salah kaprah dan bilang kalo gw yang di-taken for granted-kan orangtua gw, padahal selama ini malah gw yang melakukan itu terhadap mereka. Hiks.

Sumber Gambar: http://www.livelifehappy.com/when-you-take-things-for-granted/

About aulleaul

I am a Social Welfare graduate, from University of Indonesia. I am passionate with human resources as well as human in general. Love watching movie and read a lot.

Posted on 21/08/2012, in Berhenti Sejenak and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. maybe later

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: